Oleh: Asep Sutisna Putra | 5 Agustus 2009

Pembelajaran PKn yang Efektif

Selayaknya Pkn sebagai Mata Pelajaran yang berintikan Pendidikan Nilai (value education) disampaikan dengan dinamis, demokratis dan menyenangkan melalui variasi MMSE. Dalam memilih variasi MMSE tersebut perlu diperhatikan / mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sesuai MMSE dengan situasi, kondisi dimana siswa tersebut belajar;
2. Domain Taksonomi (Cognitive, Afective, Psikomotor) harus menjadi acuan, karena setiap materi pembelajaran memiliki domain yang berbeda-beda. Berikut adalah MMSE yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran PKn.

a.  Pendekatan

Pendekatan dalam pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan mengacu pendekatan-pendekatan nilai yang dikemukakan Douglas Superka (Djahiri, 1985 : 39 – 42), bahwa terdapat  8 pendekatan dalam pendidikan nilai, yaitu :

  1. Evocation Approach, yaitu pendekatan ekspresi spontasi, dimana siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengekspresikan tanggapan, perasaan, penilaian dan pandangannya terhadap sesuatu hal;
  2. Inculcation Approach, yaitu pendekatan sugesti terarah, dimana guru sangat menentukan denga memberikan rangsangan yang menggiring siswa secara halus pada suatu kesimpulan atau pendapat yang sudah ditentukan;
  3. Awareness Approach, yaitu pendekatan kesadaran dengan cara menuntun anak untuk mengklasifikasikan dirinya atay bukau irabg kaub/umum melalui suatu kegiatan;
  4. Moral Reasoning Approach, yaitu pendekatan yang digunakan untuk mencari/menentukan kejalasan moral melalui stimulus yang berupa dilema (masalah pelik yang dilemparkan siswa pada siswa)
  5. Analisys Approach, yaitu pendekatan melalui analisis nilai yang ada dalam suatu media/stimulls mulai dari analisis seadanya berupa reportasi sampai pada pengkajian secara akurat, teliti, dan tepat;
  6. Value Clarification Approach, yaitu pendekatan dengan membina kesadaran emosional siswa melalui cara yang kritis rasional dengan mengklasifikasi dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya;
  7. Commitment Approach, yaitu pendekatan kesepakatan, dimana siswa diajak untuk menyepakati sikap dan pola pikir berdasarkan acuan tertentu;
  8. Union Approach, yaitu pendekatan dengan mengintegrasikan diri dalam kehidupan riil atau stimuli yang dirancang guru.

 Disamping itu hendaknya memperhatikan pendekatan umum dalam proses pembelajaran, seperti diungkapkan Indra Djati Sidi (2001 : 1999) bahwa proses pembiasaan akan mampu membentuk sikap dan perilaku peserta didik melalui interaksi dan komunikasi dengan warga sekolah sebagai komunitas sosial yang cukup homogen. Proses internalisasi nilai-nilai akan semakin bermakna apabla dilakukan dalam suasana kehidupan sekolah yang demokratis, jujur dan terbuka.

 b. Metode

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri, harus disampaikan melalui proses pembelajaran yang khusus, yaitu :

Ceramah nurani, ekspositorik, demonstrasi, tanya jawab/reportasi, permainan andai-andai, kliping, daftar baik-buruk, daftar gejala sikap, daftar gejala kontinum, analisis nilai moral, observasi partisipatorik, simulasi permainan peran, role playing, modeling (pengembangan model), karyawisata (studi tour), Value Clarification Technique (VCT), dan ekshibisi. (Djahiri, 1985 : 50)

 Metode-metode itu dilakukan dengan mempertimbangkan bahan ajar, situasi dan kondisi siswa, sarana dan prasarana belajar serta lingkungan dimana proses belajar mengajar itu berlangsung. Sehingga suatu metode itu dianggap baik apabila terdapat kesesuaian antar metode, bahan ajar, situasi dan kondisi siswa.

Dalam kurikulum Berbasis kompetensi 2004 metode yang direkomendasikan adalah Metode ceramah, tanya jawab, diskusi (akan tetapi guru lebih sering menggunakan metode ceramah, karena mengejar penyampaian materi sesuai target kurikulum yang berorientasi pada penguasaan materi) lebih bervariasi, karena metode ceramah dikolaborasikan dengan metode-metode pembelajaran yang lain yaitu: tanya jawab, diskusi, inkuiri lapangan; kepustakaan, pemecahan masalah dan lain-lain disertai juga dengan strategi pembelajaran dalam bentuk permainan yang berkaitan dengan materi, seperti: Permainan andai-andai, simulasi, role playing dan sebagainya.

c. Media

Media dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting dalam upaya memberikan stimulus kepada siswa, sehingga siswa tertarik untuk mempelajari lebih mendalam topik pembelajaran yang sedang dibahas. Media pembelajaran juga berperan sebagai :

  1. Penyajian materi ajar menjadi lebih standar.
  2. Penyusunan media yang terencana dan terstruktur dengan baik membantu pengajar untuk menyampaikan materi dengan kualitas dan kuatitas yang sama dari satu kelas ke kelas yang lain.
  3. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
  4. Kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif
  5. Materi pembelajaran dapat dirancang, baik dari sisi pengorganisasian materi maupun cara penyajiannya yang melibatkan siswa, sehingga siswa menjadi lebih aktif di dalam kelas.
  6. Media dapat mempersingkat penyajian materi pembelajaran yang kompleks, misalnya dengan bantuan video. Dengan demikian, informasi dapat disampaikan secara menyeluruh dan sistematis kepada siswa.
  7. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan
  8. Penyajian pembelajaran dengan menggunakan media yang mengintegrasikan visualisasi dengan teks atau suara akan mampu mengkomunikasikan materi pembelajaran secara terorganisasi.

Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi : OHP, Audio Visual, peta, kliping, artikel-artikel internet, dan lain-lain.

 d. Evaluasi

Evaluasi adalah komponen pembelajaran yang penting, karena dengan evaluasi, guru akan mengetahui sejauhmana siswa mencapai hasil yang telah ditentukan. Juga evaluasi dapat dijadikan sebagai bahan untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan, untuk itu Sudjana (2004 : 111) mengemukakan bahwa untuk mengetahui tercapainya tujuan pengajaran, maka diperlukan evaluasi.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 SMP/MTs., Depdiknas (2004 : 11) dijelaskan bahwa :

Penilaian (evaluasi) dalam proses belajar mengajar, dalam hal mata pelajaran Pengetahuan Sosial diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator hasil belajar dengan berpedoman pada Penilaian Berbasis Kelas. Proses Penilaian tersebut meliputi penilaian tertulis (pencil and paper test), penilaian berdasarkan perbuatan (performance based assessment), penugasan (project), produk (product), dan portofolio (portofolio).

Penilaian tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu : pertama, penilaian kegiatan dan kemajuan belajar siswa adalah upaya pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa yang bertujua untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, serta untuk memperbaiki dan meningkatkan kegiatan pembelajaran. Kedua, penilaian kegiatan yang dilakukan dengan cara evaluasi multi sistem, serta terus menerus dan berkesinambungan.

Untuk hal itu Djahiri (1996 : 38) mengemukakan bahwa pola evaluasi pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus memuat hal-hal sebagai berikut :

(a) penilaian multi dimensi, utuh dan kontinue, (b) tidak hanya penilaian kognitif rendah, tapi juga harus meliputi kawasan kemampuan lainnya dalam kadar taksonomik/ranah yang tinggi, (c) menggunakan alat dan bentuk tes dan non tes serta dengan mementum/frekwensi yang lebih tinggi, dapat dilakkan di kelas/sekolah atau di luar sekolah, baik secara individual mauun melalui belajar kelompok (d) membantu siswa melakukan penilaian diri sendiri (self evaluation), baik  selama proses belajar mengajar mauun sesudahnya.

 Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa evaluasi tidak hanya berguna untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan mengajar guru, oleh karena itu guru Pendidikan Kewarganegaraan harus benar-benar teliti dan selektif dalam menentuk bentuk evaluasi yang akan digunakan.

About these ads

Responses

  1. Info yang sangat menarik, kritis dan membangun….. trim’s
    semoga dengan pendidikan Pkn ini bisa lebih memahami tentang permasalahan kewarganegaraan….

  2. Kita butuh orang-orang yang mau kembali menata moral generasi muda spt anda… Bravo … ALLAH menyukai usaha dibanding hasil… Berusaha yoooook ………

  3. berikan contoh masalah yang berhubungan dengan supra struktur dan infra struktur


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: