Oleh: Asep Sutisna Putra | 9 Desember 2012

UPAYA-UPAYA MENGEMBANGKAN PKn DI SEKOLAH

Kaitan dengan bagaimana mengembangkan PKn di sekolah, Patrick (2002 : 3 – 4) merekomendasikan 6 hal, yaitu :

  1. Increase the exposure of students to content in civics
  2. Systematically teach students to analyze public issues and to participate democratically in making public policy decisions in response to the issues
  3. Create and maintain a classroom climate that is conducive to free and open exchange of opinions about public issues and other controversial topics.
  4. Encourage students to participate in extracurricular activities involving civic engagement and political participation. There is a strong, positive relationship between democratic participatory experiences in school-based organizations and the development of the skills and dispositions of democratic citizenship
  5. Foster a democratic ethos in the school.
  6. Conjoin content and processes in the teaching and learning of civic knowledge, skills, and dispositions.

Artinya bahwa Pendidikan Kewarganegaraan dapat dikembangkan di sekolah melalui pembelajaran dengan :

  1. meningkatkan kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melaui unjuk kemampuan;
  2. Mengajarkan pada siswa secara sistematis untuk menganalisis isu-isu dalam masyarakat dan untuk berpartisipasi secara demokratis dalam membuat keputusan dalam merespon isu-isu;
  3. Membuat dan memelihara iklim kelas yang bebas dan terbuka dalam bertukar pikiran tentang isu-isu dalam masyarakat dan topik-topik kontroversial lainnya;
  4. Mendorong siswa untuk ambil bagian di dalam aktivitas kegiatan ekstrakurikuler yang disertai perikatan kewarganegaraan dan partisipasi politik. Ada hubungan yang kuat dan positif antara pengalaman partisipasi demokratis dalam organisasi di sekolah dengan pengembangan ketrampilan-ketrampilan dan disposisi-disposisi kewarganegaraan yang demokratis;
  5. Membantu perkembangan budaya demokratis di sekolah;
  6. Isi dan proses pembelajaran digabungkan dalam mengajarkan pengetahuan kewarganegaraan, ketrampilan-ketrampilan kewarganegaraan, dan disposisi-disposisi kewarganegaraan;
Oleh: Asep Sutisna Putra | 15 November 2016

MENGENAL POTENSI DIRI ALA HOWARD GARDNER

Pembelajaran PKn harus dilakukan dengan mengikutsertakan peserta didik secara aktif agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya dan memiliki keterampilann dalam hidupnya.

Pada pembelajaran PKn kelas IX Kurikulum 2006 ada sebuah Kompetensi Dasar, yaitu Mengenal Potensi Diri untuk Berprestasai sesuai kemampuan. Dalam KD ini saya berusaha agar peserta didik mampu mengenali potensinya masing-masing.

Teringat dengan perkataan Gardner, beliau mengatakan bahwa kecerdasan adalah potensi manusia. Beliau mengemukakan 8 kecerdasannya, yaitu kecerdasan lingusistik, logis matematis, visual spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetis dan naturalis.

Implementasi 8 kecerdesan Gardner kemudian dikembangkan oleh Thomas Armstrong dalam bukunya yang berjudul Multiple Intelligence in Classroom dengan memberikan indikator-indikator kecerdasan untuk mengetahui kecerdasan apa yang dimiliki oleh peserta didik yang diberi nama cheklist for student.

Dari indikator yang dikembangkan Armstrong itulah saya membuat sebuah media sederhana agar peserta didik dapat mengenali potensinya sendiri. Media tersebut saya beri nama Mengenal Potensi Diri ala Howard Gardner.

Yang berminat memiliki aplikasinya silahkan unduh disini.

Terima kasih telah berkunjung, jangan lupa berikan like, share, atau komentar anda.

Semoga Bermanfaat.

Oleh: Asep Sutisna Putra | 26 Oktober 2009

Sejarah PKn di Indonesia

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DI INDONESIA

Oleh : Asep Sutisna Putra, M.Pd.

Sebagai mata pelajaran di sekolah, Pendidikan Kewarganegaraan telah mengalami perkembangan yang fluktuatif, baik dalam kemasan maupun substansinya. Hal tersebut dapat dilihat dalam substansi kurikulum PKn yang sering berubah dan tentu saja disesuaikan dengan kepentingan negara. Secara historis, epistemologis dan pedagogis, pendidikan kewarganegaraan berkedudukan sebagai program kurikuler dimulai dengan diintroduksikannya mata pelajaran Civics dalam kurikulum SMA tahun 1962 yang berisikan materi tentang pemerintahan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 (Dept. P&K: 1962). Pada saat itu, mata pelajaran Civics atau kewarganegaraan, pada dasarnya berisikan pengalaman belajar yang digali dan dipilih dari disiplin ilmu sejarah, geografi, ekonomi, dan politik, pidato-pidato presiden, deklarasi hak asasi manusia, dan pengetahuan tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Somantri, 1969:7). Istilah Civics tersebut secara formal tidak dijumpai dalam Kurikulum tahun 1957 maupun dalam Kurikulum tahun 1946. Namun secara materiil dalam Kurikulum SMP dan SMA tahun 1957 terdapat mata pelajaran tata negara dan tata hukum, dan dalam kurikulum 1946 terdapat mata pelajaran pengetahuan umum yang di dalamnya memasukkan pengetahuan mengenai pemerintahan.

Kemudian dalam kurikulum tahun 1968 dan 1969 istilah civics dan Pendidikan Kewargaan Negara digunakan secara bertukar-pakai (interchangeably). Misalnya dalam Kurikulum SD 1968 digunakan istilah Pendidikan Kewargaan Negara yang dipakai sebagai nama mata pelajaran, yang di dalamnya tercakup sejarah Indonesia, geografi Indonesia, dan civics (d iterjemahkan sebagai pengetahuan kewargaan negara). Dalam kurikulum SMP 1968 digunakan istilah Pendidikan Kewargaan Negara yang berisikan sejarah Indonesia dan Konstitusi termasuk UUD 1945. Sedangkan dalam kurikulum SMA 1968 terdapat mata pelajaran Kewargaan Negara yang berisikan materi, terutama yang berkenaan dengan UUD 1945. Sementara itu dalam Kurikulum SPG 1969 mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara yang isinya terutama berkenaan dengan sejarah Indonesia, konstitusi, pengetahuan kemasyarakatan dan hak asasi manusia (Dept. P&K: 1968a; 1968b; 1968c; 1969). (Winataputra, 2006 : 1). Secara umum mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara membahas tentang nasionalisme, patriotisme, kenegaraan, etika, agama dan kebudayaan (Somantri, 2001:298)

Pada Kurikulum tahun 1975 istilah Pendidikan Kewargaan Negara diubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang berisikan materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4. Perubahan ini sejalan dengan missi pendidikan yang diamanatkan oleh Tap. MPR II/MPR/1973. Mata pelajaran PMP ini merupakan mata pelajaran wajib untuk SD, SMP, SMA, SPG dan Sekolah Kejuruan. Mata pelajaran PMP ini terus dipertahankan baik istilah maupun isinya sampai dengan berlakunya Kurikulum 1984 yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 (Depdikbud: 1975 a, b, c dan 1976). Pendidikan Moral Pancasila (PMP) pada masa itu  berorientasi pada value inculcation dengan muatan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 (Winataputra dan Budimansyah, 2007:97)

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional yang menggariskan adanya muatan kurikulum Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan, sebagai bahan kajian wajib kurikulum semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 39), Kurikulum Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tahun 1994 mengakomodasikan misi baru pendidikan tersebut dengan memperkenalkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, Kurikulum PPKn 1994 mengorganisasikan materi pembelajarannya bukan atas dasar rumusan butir-butir nilai P4, tetapi atas dasar konsep nilai yang disaripatikan dari P4 dan sumber resmi lainnya yang ditata dengan menggunakan pendekatan spiral meluas atau spiral of concept development (Taba,1967). Pendekatan ini mengartikulasikan sila-sila Pancasila dengan jabaran nilainya untuk setiap jenjang pendidikan dan kelas serta catur wulan dalam setiap kelas.

 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada masa ini karakteristiknya didominasi oleh proses value incucation  dan  knowledge dissemination. Hal tersebut dapat lihat dari materi pembelajarannya yang dikembangkan berdasarkan butir-butir setiap sila Pancasila. Tujuan pembelajarannya pun diarahkan untuk menanamkan sikap dan prilaku yang beradasarkan nilai-nilai Pancasila serta untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk memahami, menghayati dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berprilaku sehari-hari (Winataputra dan Budimansyah, 2007:97).

Dengan dberlakukannya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, diberlakukan kurikulum yang dikenal dengan nama Kurikulum berbasis Kompetensi tahun 2004 dimana Pendidikan Kewarganegaraan berubah nama menjadi Kewarganegaraan. Tahun 2006 namanya berubah kembali menjadi Pendidikan Kewarganegaraan, dimana secara substansi tidak terdapat perubahan yang berarti, hanya kewenangan pengembangan kurikulum yang diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan, maka kurikulum tahun 2006 ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Berbagai perubahan yang dialami dalam pengimplementasian PKn sebagaimana diuraikan diatas menunjukkan telah terjadinya ketidakajekan dalam kerangka berpikir, yang sekaligus mencerminkan telah terjadinya krisis konseptual, yang berdampak pada terjadinya krisis operasional kurikuler.

Secara Konseptual istilah Pendidikan Kewarganegaraan dapat terangkum sebagai berikut :

(a)    Kewarganegaraan (1956)

(b)   Civics (1959)

(c)    Kewarganegaraan (1962)

(d)   Pendidikan Kewarganegaraan (1968)

(e)    Pendidikan Moral Pancasila (1975)

(f)    Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (1994)

(g)   Pendidikan Kewarganegaraan (UU No. 20 Tahun 2003)

Dari penggunaan istilah  tersebut sangat terlihat jelas ketidakajegannya dalam mengorganisir pendidikan kewarganegaraan, yang berakibat pada krisis operasional, dimana terjadinya perubahan konteks dan format pendidikannya. Menurut Kuhn (1970) krisis yang bersifat konseptual tersebut tercermin dalam ketidakajekan konsep atau istilah yang digunakan untuk pelajaran PKn. Krisis operasional tercermin terjadinya perubahan isi dan format buku pelajaran, penataran yang tidak artikulatif, dan fenomena kelas yang belum banyak dari penekanan pada proses kognitif memorisasi fakta dan konsep. Kedua jenis krisis tersebut terjadi karena memang sekolah masih tetap diperlakukan sebagai socio-political institution, dan masih belum efektifnya pelaksanaan metode pembelajaran secara konseptual, karena belum adanya suatu paradigma pendidikan kewarganegaraan yang secara ajeg diterima dan dipakai secara nasional sebagai rujukan konseptual dan operasional.

Oleh: Asep Sutisna Putra | 12 Oktober 2009

Hasil Penelitian

EFEKTIFITAS MEDIA VCD (VIDEO COMPACT DISC) PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI  DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA MATERI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Oleh : ASEP SUTISNA PUTRA, M.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui efektivitas media VCD Peristiwa sekitar Proklamasi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi Proklamasi Kemerdekaan.

Penelitian ini didasari pemikiran bahwa media pembelajaran merupakan alat yang dapat dijadikan jembatan untuk menghubungkan dunia nyata dan menghadirkannya di hadapan siswa, sehingga pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran,  dan hasil belajar siswa.

Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif diperoleh hasil bahwa VCD Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi mampu memberikan motivasi siswa untuk belajar, terbukti dengan cukup besarnya antusias siswa dalam belajar, sehingga hasil belajarnya pun sebagaian besar meningkat.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa media VCD Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi terbukti efektif meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa pada  materi Proklamasi Kemerdekaan, hal ini terlihat dari hasil post-test yang meningkat dari hasil pre-test.

Hasil penelitian merekomendasikan, pertama, perlu dukungan sarana dan prasaran yang memadai dalam penggunaan media VCD, kedua, perlu penelitian lanjutan tentang efektivitas media VCD pada materi (SK/KD) yang  lain.

 

A.      Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Melalui implementasi tujuh komponen pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) siswa akan lebih memaknai dan mamahami materi pembelajaran, sehingga apa yang telah diperoleh di sekolah dapat diimplementasikan di lingkungannya.

Dalam menugimplementasikan komponen-komponen pembelajaran kontekstual harus mempertimbangkan materi pembelajaran, sarana pendukung, dan kompetensi apa yang harus dimiliki oleh siswa. Misalnya penggunaan komponen pemodelan (modeling) pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk materi Proklamasi Kemerdekaan diperlukan model atau saksi sejarah yang bisa menjelaskan secara langsung bagaimana suasana kebatinan, beratnya perjuangan untuk memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan, rasa kebangsaan dan nasionalisme yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Tapi yang jadi masalah adalah sulitnya mencari saksi sejarah, karena para pejuang dahulu telah tua dan sudah banyak yang meninggal, sehingga diperlukan upaya agar materi pelajaran tersebut dapat dimaknai lebih mendalam oleh siswa.

Karena untuk menghadirkan model sulit dilakukan, maka gutu kembali menjelaskan tentang Proklamasi Kemerdekaan itu dengan metode konvensional, seperti ceramah dan tanya jawab. Akibatnya suasana kelas selalu didominasi pembicaraan guru, sehingga membosankan, partisipasi siswa rendah, pengalaman belajar tidak bervariasi, dan materi pembelajaran kurang dimaknai oleh siswa.

Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengatasi hal tersebut.dilakukan.  Dalam hal ini penulis mencoba membuat solusi untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat media berupa VCD (video compact disc) dokumenter tentang peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang penulis ambil dari berbagai tayangan di televisi dengan tujuan agar siswa mampu mengetahui hal ihwal tentang peristiwa yang terjadi sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI langsung dari pelaku  sejarah dan dari film-film dokumenter, sehingga siswa akan dapat merasakan bagaimana suasana kebatinan pada saat menjelang, sesudah proklamasi kemerdekaan dan saat mempertahankan kemerdekaan RI

2.      Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas penulis merumuskan masalah untuk penelitian ini adalah apakah penggunaan media VCD dokumenter peristiwa sekitar Proklamasi efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Proklamasi Kemerdekaan RI ?

 

3.      Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media VCD Peristiwa sekitar Proklamasi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi Proklamasi Kemerdekaan.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi siswa

Siswa dapat lebih memahami materi pembelajaran, sehingga diharapkan hasil belajarnya dapat meningkat.

2.  Bagi Guru

Dengan meningkatnya peran serta siswa dalam proses pembelajaran, guru akan lebih leluasa untuk mengeksplorasi potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa

3. Bagi Sekolah

Dengan terjadinya pembelajaran yang aktif, kreatif, efisien, dan menyenangkan (PAKEM) dengan hasil belajar yang meningkat pada akhirnya dapat meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

4.      Definisi Operasional

Variabel pada penelitian ini, yaitu media VCD dokumenter dan pemahaman siswa. Yang dimaksud dengan media VCD dokumenter dalam penelitian ini adalah berupa film dokumenter yang diambil dari beberapa tayanga televisi berupa pernyataan, tanggapan dan rekaman sejarah dari pelaku sejarah yang masih hidup.

Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman ‘aktualitas’ atau potongan rekaman sewaktu kejadian sebenarnya berlangsung, saat orang yang terlibat di dalamnya berbicara, kehidupan nyata seperti apa adanya, spontan dan tanpa media perantara (Yusuf, 2009). 

Sementara yang dimaksud dengan pemahaman siswa adalah hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes tertulis berupa pretest dan post test

 

B.       Kajian Pustaka

1.      Pembelajaran Kontekstual

Pada hakekatnya pembelajaran Kontekstual adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi palajaran dengan pengalaman-pengalaman nyata  siswa sehari-hari dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, penggunaan pendekatan kontekstual sangat urgen dilaksanakan, hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat ini siswa kurang mampu menghubungkan materi-materi pelajaran yang dipelajarinya dan memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini sebagai akibat dari kurang bermaknanya proses pembelajaran, karena pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan lebih berfokus pada guru (teacher centered), menjadikan buku teks sebagai sumber utama pembelajaran (textbook oriented), ceramah menjadi pilihan utama strategi pembelajaran, pembelajaran hanya memberikan kemampuan untuk mengingat dan menghafal fakta-konsep-teori.

Implementasi pembelajaran kontekstual harus memperhatikan : (1) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan; (2) Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna); (3) Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran; (4) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan; (5) Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (6) Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang; (7) Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok); (8) Perilaku dibangun atas kesadaran diri; (9) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman; (10) Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri; (11) Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan; (12) Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik; (13) Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting; (14) Hasil belajar diukur  melalui penerapan penilaian autentik.

2.      Media Audio Visual

Bermacam-macam peralatan yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan pendengaran untuk menghindari verbalisme yang masih mungkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata. Media bila dikaitkan dengan pembelajaran merupakan sarana komunikasi dalam proses pembelajaran yang berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) agar proses dan hasil pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, serta mempermudah dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Seels dan Richey (1994: 1 –  46) menjelaskan bahwa media  merupakan alat komunikasi, segala sesuatu yang membawa informasi atau pesan-pesan dari sumber informasi kepada penerimanya mencakup film, televisi, bahan cetak, radio, diagram, tabel dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah mencakup semua bentuk media yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan tujuan pembelajaran.

Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual, tapi sekarang media merupakan alat yang dapat dijadikan jembatan untuk menghubungkan dunia nyata dan menghadirkannya di hadapan siswa.

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :

  1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
  2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
  4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
  5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
  6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
  7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
  8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :

  1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
  2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
  4. Media Audio Visual : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya

3.      Media yang dikembangkan

Penelitian ini merupakan tahap pengujian terhadap media yang dikembangkan berupa VCD dokumenter Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dimana cuplikan-cuplikan film dokumenter ini diambil dari beberapa tayangan televisi yang direkam dan diedit sesuai substansi materi pelajaran.

Tahap editing menggunakan software Adobe Visual Studio v. 10 dengan tujuan agar film-film tersebut tersusun runtut sesuai dengan tema yang telah di tetapkan, sehingga menjadi tayangan yang utuh dan mudah dipahami oleh siswa.

 

4.      Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya

Brown (1973) mengatakan bahwa media pembelajaran berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar, terbukti dapat meningkatkan efektivitas dan hasil belajar terlihat dari berbagai hasil penelitian khususnya yang berkaitan dengan penggunaan media VCD, seperti :

  1. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Bermedia VCD menghasilkan kompetensi belajar Sejarah yang lebih baik dibandingkan dengan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Bermedia Gambar. (Suryani, 2007)
  2. Pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan meningkat setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan media VCD. (Wijaya, 2008)
  3. Penerapan model pembelajaran langsung DI berbantuan VCD dapat meningkatkan aktivitas belajar dalam pembelajaran atletik (Parwata, 2008).

Dari hasil-hasil penelitian di atas jelaslah bahwa media pembelajaran VCD efektif dalam meningkatkan aktivitas dan pemahaman siswa, sehingga hasil belajar meningkat.

 

C.      METODOLOGI PENELITIAN

1.      Pendekatan dan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode deskriptif menurut Nazir (1988:63) adalah satu metoda dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau pun kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah mebuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

2.      Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 17 Tasikmalaya kelas VII – E. Pemilihan subjek penelitian didasarkan pada :

  1. Siswa kelas VII – E merupakan kelas yang menempati ruang kelas Multimedia, sehingga memudahkan untuk melaksanakan pembelajaran dengan media VCD;
  2. Kelas VII – E menurut guru Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII memiliki respon yang cukup baik dalam belajar dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain.

 

3.      Teknik Pengumpulan Data

  1. Observasi, yaitu pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera.
  2. Wawancara, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara lisan terhadap responden, dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disediakan.
  3. Studi literatur, yaitu alat pengumpul data untuk mengungkapkan berbagai teori yang relevan dengan permasalahan yang sedang dihadapi atau diteliti sebagai bahan pembahasan hasil penelitian yang diambil dari berbagai buku yang dianggap relevan terhadap isi penelitian.

4.        Prosedur Penelitian

Dalam rangka mencapai tujuan penelitian, maka disusun prosedur penelitian ini dalam tiga tahap, yaitu :

  1. Persiapan

Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan :

  1. Menentukan tujuan penelitian
  2. Mempersiapkan media yang akan diujikan
  3. Menghubungi guru Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII untuk memberitahukan rencana penelitian
  4. Menyusun instrumen berupa pedoman wawancara dan pedoman pengamatan (observasi)
  5. Menyusun Rencana Pembelajaran
  6. Pelaksanaan

Langkah-langkah yang dilaksanakan pada tahap ini berupa :

  1. Pelaksanaan proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat
  2. Observasi
  3. Wawancara dengan siswa berkaitan dengan media yang digunakan dalam pembelajaran
  4. Refleksi
  5. Pelaporan

               a. Pengolahan data

               b. Penyusunan laporan penelitian

D.      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.        Hasil Penelitian

Berdasarkan data-data yang diperoleh di lapangan, diperoleh hasil sebagai berikut :

Berdasarkan hasil observasi, perhatian siswa terhadap penayangan media VCD menunjukkan :

No

Perhatian Siswa

Jumlah

%

1

Memperhatikan dengan seksama

31

77,5

2

Acuh tak acuh

7

17,5

3

Tidak Memperhatikan

2

5

Jumlah

40

100

 

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa perhatian siswa terhadap penayangan media VCD dokumenter Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi cukup tinggi terlihat dari 31 orang (77,5%) memperhatikan dengan seksama, 7 orang (17,5%) acuh tak acuh, dan 2 orang (5%) tidak memperhatikan.

Meskipun sebagian besar memperhatikan dengan seksama tayangan VCD, tetapi ada 7 orang yang masih tidak terlihat antusias dalam mengikuti pelajaran, malah 2 orang diantaranya tidak memperhatikan sama sekali tayangan di VCD tersebut. Setelah diamati lebih mendalam, ternyata siswa yang kurang memperhatikan itu duduk pada barisan paling belakang, sementara yang perhatiannya penuh ada pada barisan paling depan.  Hal ini disebabkan karena VCD ditayangkan melalui televisi, sehingga siswa yang duduk paling belakang tidak jelas melihat tayangan di televisi.

Dari aktifitas siswa dalam bertanya/mengemukakan pendapat dan menjawab pertanyaan dapat terlihat pada tabel di bawah ini :

No

Aktivitas

Jumlah

%

1

Bertanya / mengemukakan pendapat

5

12,5

2

menjawab pertanyaan

17

42,5

 

Dari tabel di atas terlihat bahwa 5 orang (12,5%) mau bertanya dan mengemukakan pendapat, sementara 17 orang (42,5%) mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru pada saat pembelajaran berlangsung.

Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, penulis mewawancarai siswa sebagai bahan refleksi, dari wawancara yang dilakukan terhadap tiga orang siswa yang secara umum menyatakan ketertarikannya terhadap media VCD, dan mereka mengatakan bahwa media VCD Peristiwa-peristiwa sekitar Proklamasi memberikan wawasan dan pemahaman yang sebenarnya mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Namun demikian mereka mengharapkan media tersebut dapat ditayangkan melalui layar yang besar dengan suara yang cukup dapat di dengar oleh seluruh siswa.

Dari hasil penilaian secara tertulis diperoleh rata-rata hasil pre-test sebesar 35,63 dan rata-rata hasil post-test sebesar 81,75. Dengan demikian terdapat peningkatan yang cukup signifikan pada hasil belajar setelah siswa diberikan pembelajaran dengan menggunakan media VCD, yaitu sebesar 46,12.

Sebenarnya peningkatan  perhatian, aktivitas, dan hasil belajar masih dapat ditingkatkan apabila media tersebut disajikan dengan memadai. Hal ini disebabkan oleh :

  1. Tidak tersedianya ruang multimedia di sekolah;
  2. Sekolah tidak memiliki LCD, sehingga tidak memungkinkan untuk menayangkan media dalam ukuran yang besar;
  3. Diperlukan sound yang memadai sehingga suara dapat didengar oleh siswa dalam satu kelas.

 

2.      Pembahasan

Bila meminjam pendapat Brown tentang efektivitas media  pembelajaran, sangatlah tepat penyataan Brown tersebut mengingat hasil yang diperoleh dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran yang menggunakan media VCD Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi. Hal ini disebabkan karena :

  1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
  2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas.
  3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
  4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
  5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
  6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
  7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
  8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak.

Meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi terutama dalam menayangkan media tersebut, namun ternyata media ini mampu meningkatkan pemahaman siswa pada materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya peningkatan pemahaman siswa diantaranya :

  1. Karena jarang sekali diberikan media yang menarik, sehingga ketika siswa disuguhkan media audio visual berupa VCD, perhatian siswa tercurah sepenuhnya pada media tersebut;
  2. Penjelasan guru (saat tayangan dihentikan) diantara peristiwa-peristiwa yang terjadi sangat membantu wawasan dan pemahaman siswa pada materi tersebut;
  3. Suasana kelas yang kondusif dan mendukung terlaksananya pembelajaran;
  4. Diberikannya kesempatan untuk bertanya dan berpendapat, berimplikasi positip terhadap pemahaman siswa.

E.     Kesimpulan dan Saran

1.      Kesimpulan

Dari data-data yang diperoleh dan melalui pembahasan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berupa VCD Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI sangat efektif dalam meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa, hal ini bisa terlihat dari perhatian yang cukup besar terhadap media VCD, meningkatnya aktivitas belajar melalui bertanya dan menjawab pertanyaan dan meningkatnya hasil belajar.

 

2.      Saran

Dalam upaya lebih meningkatakan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penggunaan media VCD, penelitian ini merekomendasikan :

  1. Baiknya penggunaan media VCD disampaikan melalui dukungan sarana dan prasaran yang memadai, seperti ruang multimedia, sehingga kendala-kendala yang dihadapi dapat diminimalisir;
  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan media VCD pada SK/KD yang lain, sehingga dapat diketahui media VCD ini tepat digunakan pada SK/KD yang mana.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Nazir, Moh. (2007). Metode Penelitian. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.
  • Parwata, I Gusti Lanang Agung (2008).  Penerapan Model Pembelajaran Langsung Berbantuan Media VCD Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Perkuliahan Atletik I. JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, April 2008.
  • Putra, Asep Sutisna dan Ai Tin Sumartini (2008). Modul Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SMP Kelas VII. MGMP Pendidikan Kewarganegaraan Kota Tasikmalaya.
  • Slavin, Robert E. (2008). Coopertive Learning : Teori, Riset, dan Praktek. Bandung : Nusa Media.
  • Wijaya, Rafika Dora (2008). Pengaruh Penggunaan Media Bantu VCD dan Modul Terhadap Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang  Asuhan Keperawatan Pada Ibu Postpartum Di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito. Skripsi, Universitas Gajah Mada Yogyakarta
  • Suryani, Nunuk (2007). Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Bermedia VCD Terhadap Pencapaian Kompetensi Belajar Sejarah. Program Studi Teknologi Pendidikan PPS UNS Surakarta
  • Yusuf, M Asdar. (2009). Pengantar Dokumenter. Tersedia di http://asdaru.multiply.com/journal/item/2/documentry_is diakses tanggal 30 Agustus 2009

 

NB : Bagi yang membutuhkan media tersebut, kirim e-mail ke : spsutisna@yahoo.com

Oleh: Asep Sutisna Putra | 14 Agustus 2009

Pembelajaran Demokratis (democratic teaching)

Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran di persekolahan dan mata kuliah di perguruan tinggi dengan koridor pendidikan nilai (value based educaton) yang bertujuan untuk mempersiapkan warganegara muda agar mampu berpartisipasi secara efektif, demokratis dan bertanggung jawab.

Sebagai mata pelajaran yang berupaya mewujudkan warga negara yang baik dan cerdas (good and smart citizen), maka Pendidikan Kewarganegaraan harus dikemas dalam pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa berpartisipasi. Apabila hal itu terjadi, maka kebiasaan berperan aktif dan bersikap demokratis di kelas akan terbawa pada lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 disebutkan bahwa tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah mengembangkan kompetensi: 1)  Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi; 3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; 4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Untuk itu diperlukan strategi dan pendekatan pembelajaran demokratis (democratic teaching), Budimansyah (2002 : 5 – 7) mengatakan bahwa pembelajaran demokratis (democratic teaching) adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan kehidupan demokrasi melalui proses pembelajran yang demokratis. Secara singkat democratic teaching adalah proses pembelajran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman perserta didik. Dalam prakteknya para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Untuk itu diperlukan suasana terbuka, akrab, dan saling menghargai, dan sebaliknya perlu dihindari suasana belajar kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kelelahan. Berdasarkan hasil penelitian Fahdita (2004 : 142) mengatakan bahwa Pembelajaran akan mampu mengembangkan sikap demokratis apabila guru dalam proses pembelajaran bersikap demokratis, suasana tidak tegang, menyenangkan, memberikan kesempatan kepada siswa, memberikan reward, tidak ada keberpihakan atau menyudutkan kelompok tertentu, sehingga guru berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator

Disamping itu berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Tacman (2006) mengatakan bahwa “ … the democratic attitudes of classrooms teachers which is important for improving people’s democratic behaviors.” Artinya sikap demokratis yang ditampilkan guru di kelas dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap pengembangan sikap demokratis seseorang, untuk itu dalam proses pembelajaran  harus dihindari suasana belajar kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif dan tidak berkembangnya sikap demokratis pada diri siswa. 

Dilain pihak mengatakan bahwa dalam upaya meningkatkan kultur dan nilai-nilai demokratis, aspek sekolah dan program pendidikan sangat berpengaruh terhadap sikap demokratis , seperti dikatakan Davis (2003) dan Blair (2003) dalam Karahan (2009 : 1)

to gain democratic life culture and democratic values, are important aspects of schools and education programs. According to Davies (1999) development of democratic life culture depends on the democratic education systems.

 Artinya pengembangan kultur hidup yang demokratis tergantung pada sistem pendidikan demokratis yang diterapkan di lingkungan pendidikannya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan sekolah yang demokratis, agar nilai-nilai demokrasi tumbuh dan berkembang dalam segala aspek kehidupan warganegara.

Oleh: Asep Sutisna Putra | 5 Agustus 2009

Pembelajaran PKn yang Efektif

Selayaknya Pkn sebagai Mata Pelajaran yang berintikan Pendidikan Nilai (value education) disampaikan dengan dinamis, demokratis dan menyenangkan melalui variasi MMSE. Dalam memilih variasi MMSE tersebut perlu diperhatikan / mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sesuai MMSE dengan situasi, kondisi dimana siswa tersebut belajar;
2. Domain Taksonomi (Cognitive, Afective, Psikomotor) harus menjadi acuan, karena setiap materi pembelajaran memiliki domain yang berbeda-beda. Berikut adalah MMSE yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran PKn.

a.  Pendekatan

Pendekatan dalam pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan mengacu pendekatan-pendekatan nilai yang dikemukakan Douglas Superka (Djahiri, 1985 : 39 – 42), bahwa terdapat  8 pendekatan dalam pendidikan nilai, yaitu :

  1. Evocation Approach, yaitu pendekatan ekspresi spontasi, dimana siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengekspresikan tanggapan, perasaan, penilaian dan pandangannya terhadap sesuatu hal;
  2. Inculcation Approach, yaitu pendekatan sugesti terarah, dimana guru sangat menentukan denga memberikan rangsangan yang menggiring siswa secara halus pada suatu kesimpulan atau pendapat yang sudah ditentukan;
  3. Awareness Approach, yaitu pendekatan kesadaran dengan cara menuntun anak untuk mengklasifikasikan dirinya atay bukau irabg kaub/umum melalui suatu kegiatan;
  4. Moral Reasoning Approach, yaitu pendekatan yang digunakan untuk mencari/menentukan kejalasan moral melalui stimulus yang berupa dilema (masalah pelik yang dilemparkan siswa pada siswa)
  5. Analisys Approach, yaitu pendekatan melalui analisis nilai yang ada dalam suatu media/stimulls mulai dari analisis seadanya berupa reportasi sampai pada pengkajian secara akurat, teliti, dan tepat;
  6. Value Clarification Approach, yaitu pendekatan dengan membina kesadaran emosional siswa melalui cara yang kritis rasional dengan mengklasifikasi dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya;
  7. Commitment Approach, yaitu pendekatan kesepakatan, dimana siswa diajak untuk menyepakati sikap dan pola pikir berdasarkan acuan tertentu;
  8. Union Approach, yaitu pendekatan dengan mengintegrasikan diri dalam kehidupan riil atau stimuli yang dirancang guru.

 Disamping itu hendaknya memperhatikan pendekatan umum dalam proses pembelajaran, seperti diungkapkan Indra Djati Sidi (2001 : 1999) bahwa proses pembiasaan akan mampu membentuk sikap dan perilaku peserta didik melalui interaksi dan komunikasi dengan warga sekolah sebagai komunitas sosial yang cukup homogen. Proses internalisasi nilai-nilai akan semakin bermakna apabla dilakukan dalam suasana kehidupan sekolah yang demokratis, jujur dan terbuka.

 b. Metode

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri, harus disampaikan melalui proses pembelajaran yang khusus, yaitu :

Ceramah nurani, ekspositorik, demonstrasi, tanya jawab/reportasi, permainan andai-andai, kliping, daftar baik-buruk, daftar gejala sikap, daftar gejala kontinum, analisis nilai moral, observasi partisipatorik, simulasi permainan peran, role playing, modeling (pengembangan model), karyawisata (studi tour), Value Clarification Technique (VCT), dan ekshibisi. (Djahiri, 1985 : 50)

 Metode-metode itu dilakukan dengan mempertimbangkan bahan ajar, situasi dan kondisi siswa, sarana dan prasarana belajar serta lingkungan dimana proses belajar mengajar itu berlangsung. Sehingga suatu metode itu dianggap baik apabila terdapat kesesuaian antar metode, bahan ajar, situasi dan kondisi siswa.

Dalam kurikulum Berbasis kompetensi 2004 metode yang direkomendasikan adalah Metode ceramah, tanya jawab, diskusi (akan tetapi guru lebih sering menggunakan metode ceramah, karena mengejar penyampaian materi sesuai target kurikulum yang berorientasi pada penguasaan materi) lebih bervariasi, karena metode ceramah dikolaborasikan dengan metode-metode pembelajaran yang lain yaitu: tanya jawab, diskusi, inkuiri lapangan; kepustakaan, pemecahan masalah dan lain-lain disertai juga dengan strategi pembelajaran dalam bentuk permainan yang berkaitan dengan materi, seperti: Permainan andai-andai, simulasi, role playing dan sebagainya.

c. Media

Media dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting dalam upaya memberikan stimulus kepada siswa, sehingga siswa tertarik untuk mempelajari lebih mendalam topik pembelajaran yang sedang dibahas. Media pembelajaran juga berperan sebagai :

  1. Penyajian materi ajar menjadi lebih standar.
  2. Penyusunan media yang terencana dan terstruktur dengan baik membantu pengajar untuk menyampaikan materi dengan kualitas dan kuatitas yang sama dari satu kelas ke kelas yang lain.
  3. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
  4. Kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif
  5. Materi pembelajaran dapat dirancang, baik dari sisi pengorganisasian materi maupun cara penyajiannya yang melibatkan siswa, sehingga siswa menjadi lebih aktif di dalam kelas.
  6. Media dapat mempersingkat penyajian materi pembelajaran yang kompleks, misalnya dengan bantuan video. Dengan demikian, informasi dapat disampaikan secara menyeluruh dan sistematis kepada siswa.
  7. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan
  8. Penyajian pembelajaran dengan menggunakan media yang mengintegrasikan visualisasi dengan teks atau suara akan mampu mengkomunikasikan materi pembelajaran secara terorganisasi.

Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi : OHP, Audio Visual, peta, kliping, artikel-artikel internet, dan lain-lain.

 d. Evaluasi

Evaluasi adalah komponen pembelajaran yang penting, karena dengan evaluasi, guru akan mengetahui sejauhmana siswa mencapai hasil yang telah ditentukan. Juga evaluasi dapat dijadikan sebagai bahan untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan, untuk itu Sudjana (2004 : 111) mengemukakan bahwa untuk mengetahui tercapainya tujuan pengajaran, maka diperlukan evaluasi.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 SMP/MTs., Depdiknas (2004 : 11) dijelaskan bahwa :

Penilaian (evaluasi) dalam proses belajar mengajar, dalam hal mata pelajaran Pengetahuan Sosial diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator hasil belajar dengan berpedoman pada Penilaian Berbasis Kelas. Proses Penilaian tersebut meliputi penilaian tertulis (pencil and paper test), penilaian berdasarkan perbuatan (performance based assessment), penugasan (project), produk (product), dan portofolio (portofolio).

Penilaian tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu : pertama, penilaian kegiatan dan kemajuan belajar siswa adalah upaya pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa yang bertujua untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, serta untuk memperbaiki dan meningkatkan kegiatan pembelajaran. Kedua, penilaian kegiatan yang dilakukan dengan cara evaluasi multi sistem, serta terus menerus dan berkesinambungan.

Untuk hal itu Djahiri (1996 : 38) mengemukakan bahwa pola evaluasi pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus memuat hal-hal sebagai berikut :

(a) penilaian multi dimensi, utuh dan kontinue, (b) tidak hanya penilaian kognitif rendah, tapi juga harus meliputi kawasan kemampuan lainnya dalam kadar taksonomik/ranah yang tinggi, (c) menggunakan alat dan bentuk tes dan non tes serta dengan mementum/frekwensi yang lebih tinggi, dapat dilakkan di kelas/sekolah atau di luar sekolah, baik secara individual mauun melalui belajar kelompok (d) membantu siswa melakukan penilaian diri sendiri (self evaluation), baik  selama proses belajar mengajar mauun sesudahnya.

 Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa evaluasi tidak hanya berguna untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan mengajar guru, oleh karena itu guru Pendidikan Kewarganegaraan harus benar-benar teliti dan selektif dalam menentuk bentuk evaluasi yang akan digunakan.

Kategori