Oleh: Asep Sutisna Putra | 14 Agustus 2009

Pembelajaran Demokratis (democratic teaching)

Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran di persekolahan dan mata kuliah di perguruan tinggi dengan koridor pendidikan nilai (value based educaton) yang bertujuan untuk mempersiapkan warganegara muda agar mampu berpartisipasi secara efektif, demokratis dan bertanggung jawab.

Sebagai mata pelajaran yang berupaya mewujudkan warga negara yang baik dan cerdas (good and smart citizen), maka Pendidikan Kewarganegaraan harus dikemas dalam pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa berpartisipasi. Apabila hal itu terjadi, maka kebiasaan berperan aktif dan bersikap demokratis di kelas akan terbawa pada lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 disebutkan bahwa tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah mengembangkan kompetensi: 1)  Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi; 3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; 4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Untuk itu diperlukan strategi dan pendekatan pembelajaran demokratis (democratic teaching), Budimansyah (2002 : 5 – 7) mengatakan bahwa pembelajaran demokratis (democratic teaching) adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan kehidupan demokrasi melalui proses pembelajran yang demokratis. Secara singkat democratic teaching adalah proses pembelajran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman perserta didik. Dalam prakteknya para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Untuk itu diperlukan suasana terbuka, akrab, dan saling menghargai, dan sebaliknya perlu dihindari suasana belajar kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kelelahan. Berdasarkan hasil penelitian Fahdita (2004 : 142) mengatakan bahwa Pembelajaran akan mampu mengembangkan sikap demokratis apabila guru dalam proses pembelajaran bersikap demokratis, suasana tidak tegang, menyenangkan, memberikan kesempatan kepada siswa, memberikan reward, tidak ada keberpihakan atau menyudutkan kelompok tertentu, sehingga guru berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator

Disamping itu berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Tacman (2006) mengatakan bahwa “ … the democratic attitudes of classrooms teachers which is important for improving people’s democratic behaviors.” Artinya sikap demokratis yang ditampilkan guru di kelas dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap pengembangan sikap demokratis seseorang, untuk itu dalam proses pembelajaran  harus dihindari suasana belajar kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif dan tidak berkembangnya sikap demokratis pada diri siswa. 

Dilain pihak mengatakan bahwa dalam upaya meningkatkan kultur dan nilai-nilai demokratis, aspek sekolah dan program pendidikan sangat berpengaruh terhadap sikap demokratis , seperti dikatakan Davis (2003) dan Blair (2003) dalam Karahan (2009 : 1)

to gain democratic life culture and democratic values, are important aspects of schools and education programs. According to Davies (1999) development of democratic life culture depends on the democratic education systems.

 Artinya pengembangan kultur hidup yang demokratis tergantung pada sistem pendidikan demokratis yang diterapkan di lingkungan pendidikannya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan sekolah yang demokratis, agar nilai-nilai demokrasi tumbuh dan berkembang dalam segala aspek kehidupan warganegara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: